OrangDalam | The Insider | Indonesia




October 18, 2006

Mengatasi Rekan Kerja Yang Rese

Filed under: Me &My Hobbies - Administrator @ 12:00 pm

1. Jaga Jarak
Bukan salah Anda jika tak suka berdekatan atau berteman dengan si trouble maker. Rekan kerja lain pun pasti akan bersikap sama. Mereka akan menjaga jarak dari si pembuat onar ini. Meskipun begitu, Anda tidak bisa diam saja dan tak mengajaknya bicara sama sekali. Anda tetap perlu membina komunikasi dengannya. Namun,pastikan komunikasi itu hanya sebatas urusan pekerjaan. Di luar itu, NO WAY! Curhat juga jangan atau rahasia Anda akan menyebar di seluruh ruangan bahkan seluruh gedung.
Anda meski bersikap cerdas dalam menghadapi si trouble maker jika tidak ingin menjadi korbannya. Perlu pandai membaca kapan waktunya berkomunikasi dan kapan tidak perlu berkomunikasi dengannya.
2. Tetap Fokus
Meski dia membuat ulah, jika urusannya tidak berkaitan dengan pekerjaan,biarkan saja. Tak perlu diurusi apalagi sok jadi pahlawan. Namun, jika ulahnya berhubungan dengan pekerjaan, selesaikanlah dengan jernih dan baik2. Usahakan penyelesaian Anda lakukan tetap focus pada masalah kerja. Jangan lari atau merembet pada masalah2 yang tidak ada masalah dengan pekerjaan.
3. Tahan Emosi
Mengahadapi si pembuat ulah memang perlu ekstra sabar. Emosi Anda mesti stabil jika tak ingin ada masalah dan pekerjaan lancar. Jika tidak, Anda akan mudah terpengaruh oleh hasutan dan masalah yang ia timbulkan. Kalau emosi, Anda akan menuai stress. Jangan sampai kehadiran si trouble-maker ini mempengaruhi pekerjaan Anda. Anggap saja dia ‘enggak penting’
4. Waspada
Meski tak ambil pusing dengan kehadiran si Trouble-maker, bukan berarti tak berhati-hati. Jangan pernah lengah dengan maksud terselubung si pembuat ulah. Ingat, ia juga pandai menyembunyikan niat busuk dengan pura-pura bersikap manis. Selalu peringatkan diri Anda untuk mewaspadai gerak-gerik si pembuat ulah. Tak harus bersikap antipati atau tak mau didekati. Justru sebaiknya tak memperlihatkan ketidaksukaan Anda padanya. Imbangi saja sikapnya. Meskipun begitu, Anda tetap harus bersiap-siap terhadap segala kemungkinan buruk yang ia ciptakan.
5. Bersikap positif
Meski dianjurkan menjaga jarak, sebenarnya tidak ada salahnya jika pelan-pelan Anda menularkan hal-hal positi pada si trouble-maker. Anda bisa melakukan pendekatan konvensional dengan menjadi temannya. Kalau ia mulai membuat ulah, sebagai teman, Anda bisa menyadarkan dia tentang kesalahannya. Suntikkan nilai2 positif yang bisa membuatnya sadar bahwa selam ini sikapnya hanya merugikan dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Namun, jika kada si trouble-maker sudah kronis. Anda sebaiknya bersikap ekstra hati2. Lebih baik tetap jaga jarak daripada ‘menggali lubang sendiri’.
(Chic edisi Oktober 2006)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King